Kronologi Kematian ARB di JSSB (19), pelajar asal Desa Sejiram, Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas, masih menyisakan tanda tanya besar bagi keluarga.
Jenazah Abu Rizal Bakri , pelajar 19 tahun asal Desa Sejiram, Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas, telah dimakamkan pada Rabu (12/3/2025) sore. Namun, pihak keluarga masih menyimpan duka dan tanda tanya besar terkait penyebab kematiannya.
Menurut Asbi, kakak kandung korban, sebelum meninggal ARB sempat mengaku bahwa dirinya bukan melompat, melainkan didorong dari Jembatan Sungai Sambas Besar (JSSB) saat terjadi keributan pada Selasa dini hari.
ARB ditemukan mengambang di sungai dalam kondisi tak sadarkan diri dan mengalami luka lebam di beberapa bagian tubuhnya, yang membuat keluarga yakin bahwa ia menjadi korban pengeroyokan, bukan kecelakaan.
Meski sempat sadar dan diperbolehkan pulang, kondisinya memburuk hingga akhirnya meninggal pada Rabu pagi. Kini, keluarga menuntut kepolisian mengusut kasus ini dan memastikan keadilan bagi ARB.
Dugaan bahwa ARB bukan sekadar jatuh dari Jembatan Sungai Sambas Besar (JSSB), melainkan korban pengeroyokan semakin kuat.
Keluarga meyakini ARB mengalami kekerasan sebelum ditemukan mengambang di sungai. Mereka kini menuntut keadilan dan meminta kepolisian mengusut tuntas kasus ini.
Kronologi Kematian ARB di JSSB
Dugaan Pengeroyokan, Bukan Sekadar Jatuh
Menurut Asbi, kakak kandung korban, sebelum meninggal, ARB sempat sadar dan bercerita kepada keluarga serta tetangga yang menjenguknya.
“Dia bilang tidak lompat, tapi didorong,” ujar Asbi.
Kronologi yang diceritakan ARB kepada keluarganya semakin menguatkan dugaan bahwa ia menjadi korban kekerasan sebelum akhirnya ditemukan di sungai.
Sekitar pukul 01.00 dini hari, ARB bersama teman-temannya nongkrong di JSSB. Tiba-tiba, mereka terlibat keributan dengan sekelompok orang yang datang dari seberang.
Keributan itu berujung pada penyerangan. ARB dan beberapa temannya mencoba kabur. Namun, berdasarkan pengakuannya sebelum meninggal, ia tidak lompat sendiri, melainkan didorong oleh seseorang dari atas jembatan.
“Tetangga juga dengar ceritanya. Saya tanya lagi, dia (ARB) bilang kena dorong,” tegas Asbi.
Luka-Luka di Tubuh Korban Menambah Kecurigaan
Keluarga semakin curiga karena banyak luka lebam dan goresan di tubuh ARB, yang diduga akibat pengeroyokan.
“Tangan kiri lebam parah. Kaki kanan dan kiri juga lebam. Kalau dia jatuh sendiri, kenapa bisa seperti itu?” ungkap Asbi penuh kecurigaan.
Menurutnya, jika ARB memang melompat sendiri, seharusnya luka yang didapat tidak sebanyak itu. Hal ini membuat keluarga yakin bahwa ARB mengalami kekerasan sebelum terjatuh ke sungai.
Keluarga Menuntut Keadilan, Polisi Mulai Investigasi
Kematian ARB yang penuh kejanggalan mendorong keluarga untuk menuntut keadilan. Mereka meminta Polres Sambas segera melakukan penyelidikan mendalam agar kasus ini terungkap secara terang benderang.
“Kami berhak melaporkan kejanggalan ini. Kami ingin pelaku diproses sesuai hukum yang berlaku,” tegas Asbi.
Namun, pihak keluarga menolak dilakukan autopsi karena jenazah sudah dimakamkan.
“Kalau sudah di lubang kubur, kami tidak mau dibongkar lagi,” katanya.
Sementara itu, Kasi Humas Polres Sambas, AKP Sadoko, menyatakan bahwa kasus ini sudah ditangani sesuai prosedur hukum.
“Kami sedang melakukan investigasi lebih lanjut terkait kejadian ini,” ungkapnya.
Kematian ARB di Jembatan Sungai Sambas Besar masih menyisakan tanda tanya besar. Keluarga yakin ia bukan sekadar jatuh, melainkan korban kekerasan.
Dengan luka-luka di tubuhnya serta pengakuan sebelum meninggal, keluarga menuntut kepolisian mengusut kasus ini dengan serius. Mereka berharap pelaku segera ditemukan dan diproses secara hukum.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun
Google News Gencilnews dan Channel Gencilnews.com