Tarif Impor AS sebesar 32% kepada Indonesia mengancam keberlangsungan industri alas kaki di tanah air.
Asosiasi Persepatuan Indonesia (APRISINDO) menyatakan kekhawatirannya atas kebijakan tarif timbal balik (reciprocal tariffs) yang diberlakukan oleh pemerintah Amerika Serikat terhadap Indonesia.
Kebijakan ini dinilai akan berdampak signifikan terhadap kelangsungan industri alas kaki nasional yang selama ini bergantung pada ekspor ke pasar Amerika.
Presiden AS Donald Trump menetapkan bea masuk tambahan sebesar 10 persen mulai 5 April 2025.
Tidak berhenti di situ, Indonesia juga akan dikenai tambahan tarif spesifik sebesar 32 persen, sehingga total tarif impor yang dikenakan atas produk alas kaki Indonesia mencapai 42 persen.
Ketua Umum APRISINDO, Eddy Widjanarko, menegaskan bahwa kebijakan ini berpotensi memberikan tekanan besar terhadap industri alas kaki, salah satu sektor padat karya di Indonesia yang menyerap sedikitnya 1,8 juta tenaga kerja.
“Tentu ini akan memiliki dampak yang cukup berat bagi pelaku industri persepatuan. Anggota APRISINDO perlu waktu untuk menyesuaikan dengan situasi dan keadaan dari kebijakan ini,” ujar Eddy dalam keterangan tertulis, Sabtu (5/4/2025)
Ekspor Alas Kaki ke AS Alami Fluktuasi
Berdasarkan data yang dihimpun APRISINDO, ekspor alas kaki Indonesia ke AS sempat menunjukkan tren positif pada periode 2020–2022.
Pada 2020 nilai ekspor tercatat sebesar 1,38 miliar dolar AS, meningkat menjadi 2,11 miliar dolar AS pada 2021, dan mencapai 2,61 miliar dolar AS pada 2022.
Namun pada 2023, terjadi penurunan ekspor sebesar 26 persen menjadi 1,92 miliar dolar AS. Kinerja tersebut kembali membaik pada 2024 dengan kenaikan sebesar 24 persen menjadi 2,39 miliar dolar AS. Kebijakan tarif baru dikhawatirkan akan membalik tren pemulihan tersebut.
Solusi Jangka Panjang: Percepat CEPA dengan Uni Eropa
Eddy Widjanarko menyarankan agar pemerintah Indonesia mempercepat penyelesaian perundingan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (I-EU CEPA) sebagai langkah mitigasi strategis.
“Perundingan CEPA yang telah berjalan sembilan tahun perlu segera diselesaikan agar kita tidak terlalu bergantung pada pasar AS,” ujarnya.
Langkah ini dinilai dapat membuka pasar alternatif yang potensial di Eropa serta memberikan kemudahan tarif masuk bagi produk alas kaki RI, terutama di tengah persaingan dengan negara lain seperti Vietnam dan Bangladesh yang telah lebih dahulu menandatangani perjanjian perdagangan serupa.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun
Google News Gencilnews dan Channel Gencilnews.com