Kasus kenakalan remaja di Pontianak semakin mengkhawatirkan. Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, mengungkapkan bahwa fenomena ini telah mencapai tingkat yang meresahkan dan memerlukan tindakan serius dari berbagai pihak.
Kenakalan Remaja di Pontianak Meningkat Tajam
Dalam beberapa bulan terakhir, berbagai aksi tawuran, perang sarung, dan balap liar terus terjadi. Bahkan, beberapa kasus berujung pada korban jiwa.
“Kalau dulu kita juga nakal tapi pakai tangan kosong. Hanya berantem biasa. Kalau sekarang ingin menampilkan jati diri. Jadi kalau celuritnya tidak satu meter dua meter itu rasanya tidak hebat. Ini adalah tren akibat media sosial dan ingin diperhatikan,” ungkapnya.
Kasus kenakalan remaja 2025 di Pontianak ini tidak hanya membuat resah masyarakat tetapi juga meningkatkan kekhawatiran orang tua terhadap keselamatan anak-anak mereka.
“Dengan adanya koordinasi dan sinergi dari semua pihak, kenakalan remaja di Kota Pontianak dapat ditangani dengan baik sehingga tidak mengganggu kondusivitas kota,” tuturnya.
Menurut data dari Polresta Pontianak, sejak Agustus 2024 hingga Maret 2025, telah terjadi peningkatan signifikan dalam kasus kekerasan remaja.
Terbaru, seorang anak berusia 15 tahun meninggal dunia akibat pengeroyokan saat Pawai Obor. Kapolresta Pontianak, Kombes Pol Adhe Hariadi, menyebutkan bahwa pelaku kekerasan dalam kasus ini adalah remaja yang masih berusia di bawah 18 tahun.
Penyebab Kenakalan Remaja di Pontianak
- Pengaruh lingkungan dan geng anak – Remaja membentuk kelompok berdasarkan wilayah seperti grup timur, utara, barat, kota, dan selatan.
- Kurangnya perhatian orang tua – Banyak orang tua yang lalai mengawasi anak mereka hingga larut malam.
- Dampak media sosial – Banyak remaja ingin menunjukkan eksistensi diri dengan aksi kekerasan.
- Pernikahan dini dan faktor ekonomi – Beberapa remaja kehilangan arah akibat tekanan ekonomi dan sosial.
Langkah Pemerintah untuk Mengatasi Kenakalan Remaja
Menanggapi situasi ini, Pemerintah Kota Pontianak mengambil beberapa langkah strategis:
- Razia dan patroli rutin untuk mencegah aksi tawuran dan perang sarung.
- Pengawasan ketat terhadap media sosial yang menjadi ajang provokasi antar geng remaja.
- Pemberian beasiswa bagi remaja yang rentan agar mereka mendapatkan pendidikan yang lebih baik.
- Mendorong aturan jam malam bagi remaja guna menekan tingkat kriminalitas.
- Menitipkan anak-anak bermasalah ke pondok pesantren dengan biaya dari pemerintah.
“Masalah ini bukan hanya tanggung jawab polisi atau pemerintah, tetapi kita semua. Orang tua harus lebih peduli dan mengawasi aktivitas anak-anak mereka,” ujar Wali Kota Pontianak.
Dukungan Masyarakat dalam Penanggulangan Kenakalan Remaja
Kapolresta Pontianak juga mengajak masyarakat, terutama para orang tua, untuk lebih aktif dalam mengawasi anak-anak mereka.
“Mungkin dari DPRD Kota Pontianak bersama Pemerintah Kota Pontianak bisa mengusulkan Peraturan Daerah terkait aturan jam malam bagi anak-anak,” ucapnya.
Selain itu, ia meminta panitia kegiatan besar seperti Pawai Obor untuk lebih selektif dalam mendata peserta agar kejadian serupa tidak terulang.
“Pawai Obor kemarin, kita tidak tahu pesertanya dari mana saja. Siapa saja yang membawa obor diperbolehkan ikut. Akhirnya terjadi seperti ini,” sesalnya.
Yang memprihatinkan, sambungnya lagi, saat kejadian tidak ada yang membantu korban meskipun banyak orang di sekitar lokasi.
“Tidak ada yang peduli. Sehingga korban terjatuh di TKP, dibawa ke rumah sakit, dan beberapa hari kemudian meninggal dunia,” katanya.
Kombes Pol Adhe Hariadi menekankan, penanggulangan kenakalan remaja membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak karena ini menjadi tanggung jawab bersama.
“Bukan hanya polisi yang bekerja di lapangan, tapi lurah, RT/RW juga harus turun. Mari kita pikirkan solusinya bersama-sama,” ajaknya.
Ia juga meminta peran orang tua untuk mengawasi anak-anak mereka. Perhatikan aktivitas anak-anak, jangan sampai mereka terlibat dalam aktivitas negatif seperti tawuran dan balap liar.
“Intinya sebenarnya adalah pengawasan dari orang tua. Anak di bawah umur tidak boleh menggunakan kendaraan bermotor, tapi kenapa dibelikan motor oleh orang tuanya,” pungkasnya.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun
Google News Gencilnews dan Channel Gencilnews.com