Prediksi puncak musim kemarau 2025 diperkirakan akan terjadi pada bulan Juni, Juli, dan Agustus. Musim kemarau tahun ini diperkirakan memiliki karakteristik yang lebih stabil dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, tanpa pengaruh besar dari fenomena El Niño atau La Niña.
Plt. Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengungkapkan bahwa musim kemarau tahun ini diprediksi berlangsung pada bulan Juni hingga Agustus 2025. Dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, kemarau tahun ini cenderung bersifat normal dan tidak seburuk tahun 2023 yang sempat memicu kekeringan ekstrem serta kebakaran hutan di berbagai wilayah Indonesia.
“Berdasarkan pemantauan suhu muka laut pada awal Maret 2025, fenomena La Niña di Samudra Pasifik telah bertransisi menuju fase ENSO Netral. Begitu juga dengan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) di Samudra Hindia yang berada pada fase Netral,” ujar Dwikorita dalam konferensi pers di Kantor Pusat BMKG, Jakarta (13/3/2025).
Dengan kondisi ini, BMKG memastikan bahwa musim kemarau tahun ini tidak akan terlalu ekstrem, meski beberapa wilayah diprediksi mengalami perbedaan dalam waktu kedatangannya.
Prediksi Puncak Musim Kemarau 2025
Wilayah yang Mengalami Awal Musim Kemarau Berbeda
Berdasarkan analisis BMKG, awal musim kemarau di Indonesia akan terjadi dalam tiga pola berbeda:
- Sama dengan Normalnya (207 Zona Musim/ZOM atau 30%) – Wilayah ini meliputi Sumatera, Jawa Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Gorontalo, Sulawesi Utara, sebagian Maluku, serta sebagian Maluku Utara.
- Mundur atau datang lebih lambat dari biasanya (204 ZOM atau 29%) – Terjadi di Kalimantan bagian Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, sebagian Maluku Utara, dan Merauke.
- Maju atau lebih cepat dari biasanya (104 ZOM atau 22%) – Wilayah-wilayah ini diperkirakan akan menghadapi kemarau lebih awal.
BMKG juga merinci bahwa secara keseluruhan, sebanyak 60% wilayah Indonesia akan mengalami musim kemarau normal, 26% lebih kering dari biasanya (di atas normal), dan 14% lebih basah dari biasanya (di bawah normal).
Dampak Musim Kemarau 2025: Ancaman dan Peluang
Meskipun kondisi kemarau tahun ini relatif stabil, BMKG tetap mengingatkan masyarakat serta berbagai sektor industri untuk bersiap menghadapi potensi dampak, terutama di bidang pertanian, kebencanaan, lingkungan, energi, dan sumber daya air.
1. Pertanian
BMKG mengimbau petani untuk menyesuaikan jadwal tanam di wilayah yang mengalami kemarau lebih awal atau lebih lambat dari biasanya. Varietas tanaman yang tahan kekeringan juga dianjurkan untuk mengantisipasi daerah yang diprediksi lebih kering.
2. Kebencanaan
Wilayah yang memiliki risiko tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) harus meningkatkan kesiapsiagaan, terutama di daerah yang mengalami musim kemarau normal atau lebih kering dari biasanya.
3. Lingkungan dan Kesehatan
BMKG memperingatkan bahwa musim kemarau dapat berdampak pada memburuknya kualitas udara di kota-kota besar. Kondisi udara panas dan lembap juga bisa meningkatkan risiko gangguan kesehatan seperti dehidrasi dan penyakit pernapasan.
4. Energi dan Air
Pasokan air untuk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dan kebutuhan irigasi harus dikelola secara efisien, terutama di daerah yang diprediksi mengalami kemarau lebih panjang atau lebih kering dari normal.
5. Infrastruktur dan Transportasi
BMKG juga mengingatkan potensi dampak kemarau terhadap infrastruktur, terutama penurunan kualitas jalan akibat retakan yang disebabkan oleh suhu tinggi.
Sisi Lain: Apakah Kemarau 2025 Menguntungkan?
Di tengah potensi ancaman, ada pula peluang yang bisa dimanfaatkan dari musim kemarau tahun ini. Wilayah dengan curah hujan lebih tinggi dari normal selama musim kemarau dapat memperluas lahan pertanian untuk meningkatkan produksi pangan.
Selain itu, cuaca cerah yang dominan selama kemarau juga dapat dimanfaatkan oleh sektor pariwisata, terutama destinasi wisata alam yang bergantung pada kondisi cuaca stabil.
Menurut Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan, kemarau 2025 memiliki karakteristik yang lebih moderat dibandingkan dengan 2023, sehingga diharapkan dapat memberikan manfaat bagi sektor yang bergantung pada kondisi cuaca kering.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun
Google News Gencilnews dan Channel Gencilnews.com