Meriam Karbit merupakan tradisi khas masyarakat Pontianak, Kalimantan Barat, yang telah berlangsung turun-temurun. Awalnya, digunakan sebagai alat perang oleh pasukan Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie dalam mempertahankan wilayahnya dari serangan bajak laut.
Seiring berjalannya waktu, berubah fungsi menjadi permainan rakyat yang digelar setiap bulan Ramadan hingga malam Idulfitri. Suara dentuman kerasnya menjadi simbol kemeriahan dan kebersamaan masyarakat Pontianak.
Pada 2016, tradisi ini resmi diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Pengakuan ini semakin memperkuat posisi sebagai bagian penting dari budaya nasional.
Meriam Karbit Sebagai Identitas Budaya Pontianak
Wali Kota Pontianak, Edi Kamtono, menyampaikan kebanggaannya atas penetapannya sebagai Warisan Budaya Takbenda. Menurutnya, tradisi ini tidak hanya menjadi daya tarik wisata, tetapi juga memperkuat identitas masyarakat Pontianak.
“Meriam Karbit bukan sekadar permainan, tetapi bagian dari sejarah dan budaya Pontianak yang harus terus dilestarikan,” ujar Edi Kamtono.
Setiap tahunnya, festival menjadi magnet bagi wisatawan yang ingin merasakan kemeriahan budaya Pontianak secara langsung.
Proses dan Aturan Main
Dibuat dari batang kayu besar, biasanya dari pohon durian atau ulin, dengan panjang mencapai 4 hingga 7 meter. Kayu ini kemudian dilubangi bagian tengahnya dan diberi ruang pembakaran.
Cara kerjanya:
- Karbit dicampur dengan air di dalam meriam untuk menghasilkan gas asetilena.
- Setelah gas cukup terkumpul, lubang meriam disulut api.
- Suara ledakan keras pun terdengar, menandakan keberhasilan penyalaan.
Permainan ini tetap memperhatikan aspek keamanan, dengan aturan main yang harus dipatuhi agar tidak membahayakan peserta maupun penonton.
Festival Budaya Pontianak
Kegiatan ini menjadi acara tahunan yang dinantikan masyarakat Pontianak. Biasanya, festival ini diadakan di sepanjang tepi Sungai Kapuas, lokasi bersejarah yang menjadi saksi perjalanan panjang tradisi ini.
Setiap kelompok peserta berlomba menampilkan meriam terbaik dengan dentuman paling keras. Selain adu suara, festival ini juga menjadi ajang kreativitas dengan lukisan dan hiasan unik pada meriam.
Selain menarik wisatawan lokal, festival ini juga menjadi daya tarik bagi wisatawan mancanegara yang ingin melihat langsung bagaimana tradisi Meriam Karbit dijalankan.
Meriam Karbit bukan hanya permainan rakyat biasa, tetapi simbol budaya yang merefleksikan sejarah, identitas, dan kebersamaan masyarakat Pontianak. Dengan pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia, tradisi ini semakin mendapat perhatian nasional dan internasional.
Pemerintah dan masyarakat Pontianak terus berkomitmen untuk menjaga dan melestarikan Meriam Karbit sebagai bagian dari warisan budaya yang harus tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun
Google News Gencilnews dan Channel Gencilnews.com